Monday, February 11, 2008

Killed by The Heaven

pacing the life, carefully down
seeing trough eyes, to find the spot
spot of your heart, seems this word useless
but, nothing false with a shot.

the sky, the cloud and the sun
seems happy together
light the world, down her rain
and decorate them with the rainbow
so calm, and peace full
why not we became the same

one eyes, one mind, one hope
to search a better living
between us

behave yourself cause you can killed by the heaven
behave yourself cause you can killed by the heaven

12.10 12/02/08
poetry by Pandi Merdeka Nurdiansyah

Tuesday, January 22, 2008

titik titik air

tergoda gambar sampul mie instant
aku makan racun itu
dengan penuh hawa nafsu
sambil ditemani sebotol sauce
yang juga racun ternyata.
setelah itu kuhisap asap
yang sedari dulu kutahu
bahwa itu racun!

kembali ku berjalan
di antara mimpi mimpi yang mengambang
menatap ribuan hektar tanah kosong
menganggur
di tengah kota sesak yang hampir rusak
tanah-tanah itu kembali menatap
pada seseorang yang juga menganggur
tatapannya sombong dengan plang nama PP
hanya plang, tapi kutahu pasti dia menganggur
tanpa tanaman, tanpa tumbuhan
hanya kegersangan.

memang kadang hidup itu bangsat!
prangg!
darah segar mengalir di sela-sela tanganku
ketika kuhantam kaca itu
kucoba meyakinkan diri
bahwa ini bukan darah
ini hanya air mata.