Showing posts with label puisi pribadi. Show all posts
Showing posts with label puisi pribadi. Show all posts

Wednesday, February 29, 2012

Samar Suara

Suara Penyair jalanan itu keras
Namun keras suaranya
Tertutup bising deru mesin bus kota

kata-katanya menjadi samar
gerakannya hambar
dan ekspresinya buyar
tertelan matahari senja

Wajah orang - orang kota
menunggu waktu sambil menatap jendela
menghalau segala tekanan
menggiring mimpi yang tak kunjung datang

suara penyair itu masih menemani
walau samar
tertutup bising hiruk pikuk kehidupan kota.

ciputat, 29 Februari 2012

Monday, January 2, 2012

Sajak S-u-atu Sore

Sore ini duduk-ku dalam lamunan
Memandang birunya langit bersemat awan
Mengagumi keindahan alam karya Maha Pencipta
Dalam hati yang sedang Gundah Gulana

Tuhan ku berlari menuju peluk-Mu
Menyerah pada hidup.
Turuti Kata Hati.
Dalam Sepi.

Seberapa kuatkah sinar lilin?
Seberapa jauhkah bintang di langit?
.
Sepertinya..
Tak mungkin lilin menjadi matahari!
Tak mungkin burung memeluk bintang!

Ikhlasku. Hidupku,
Tuhan! Peluk-Mu dalam mimpiku.

ciputat, 3 januari 2012

Monday, November 9, 2009

detik ke sepuluh

di Detik Kesepuluh
dada ini sesak
pikiran melayang
terbayang
perjalanan hidup yang sudah terkarang

di Detik Kesepuluh
tinta tertoreh
tak ada jalan pulang
melangkah ragu, tak ada tujuan

di Detik Kesepuluh
tersadarkan oleh sesaknya dunia
tak ada cinta yang tersisa
semuanya habis dimakan
ambisi, gengsi, kursi, ...

di Detik Kesepuluh
teringat beberapa kata
bangku, lampu, gincu, buku
rumus bahagia hidup di dunia

di Detik Kesepuluh
bersimpuhku dalam pelukmu
berharap mataku terpejam
tidur, dan tak akan bangun

di Detik Kesepuluh
aku berharap
di Detik Kesebelas
terbentang jalan
untuk kembali kepadaMu

tanpa, ambisi, gengsi, kursi, ...

Ciputat, Pandi Merdeka

Saturday, June 27, 2009

Bukan Maksud

maafkan segala perbuatan yang salah
maafkan segala kata yang patah
bukan maksud mengelak
apalagi menipu
inilah aku
a
jika kau
merasa tertipu
bukan maksud seperti itu
maafkan segala kata yang sudah terucap
maafkan segala perbuatan-perbuatan yang khilaf
16 juni 2007

P.S. : mengumpulkan kembali yang berserakan

Wednesday, April 29, 2009

dan angka itu telah pergi

12:2+4 x1456+23-567:3
+4-5-4665=2+4 .....

dan ya! betul sekali angka itu telah pergi!

Friday, June 27, 2008

Makna Tanpa Kata

ketika aku bangun
aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa
ketika aku menulis
aku sadar kata-kataku tidak bermakna
ketika aku berjalan
aku sadar jalanku tanpa arah
ketika aku makan
aku sadar bahwa tidak ada rasa
yang ada hanya tawar, hambar.

tapi ternyata aku terus bangun,
tapi ternyata aku terus menulis
tapi ternyata aku terus berjalan
tapi ternyata aku terus makan
tanpa ada sebab dan insight

ternyata makna tidak selamanya
berteman kata.

Saturday, March 8, 2008

dianya DIA

dipertanyakan maksudku
siapa DIA?
dianya DIA!
tanpa koma
hanya Satu
tanda seru

Friday, March 7, 2008

DUKA LUKA

Ada Luka
Ada Duka
Ada Kesusahan
ada kemudahan
Setelah Kemudahan
bersiaplah Kau
menempuh penderitaan
Jalan panjang
Halus Berduri
Godaan bertubi
sehari berganti
ingat DIA
Jawaban pasti

Monday, February 11, 2008

Killed by The Heaven

pacing the life, carefully down
seeing trough eyes, to find the spot
spot of your heart, seems this word useless
but, nothing false with a shot.

the sky, the cloud and the sun
seems happy together
light the world, down her rain
and decorate them with the rainbow
so calm, and peace full
why not we became the same

one eyes, one mind, one hope
to search a better living
between us

behave yourself cause you can killed by the heaven
behave yourself cause you can killed by the heaven

12.10 12/02/08
poetry by Pandi Merdeka Nurdiansyah

Tuesday, January 22, 2008

titik titik air

tergoda gambar sampul mie instant
aku makan racun itu
dengan penuh hawa nafsu
sambil ditemani sebotol sauce
yang juga racun ternyata.
setelah itu kuhisap asap
yang sedari dulu kutahu
bahwa itu racun!

kembali ku berjalan
di antara mimpi mimpi yang mengambang
menatap ribuan hektar tanah kosong
menganggur
di tengah kota sesak yang hampir rusak
tanah-tanah itu kembali menatap
pada seseorang yang juga menganggur
tatapannya sombong dengan plang nama PP
hanya plang, tapi kutahu pasti dia menganggur
tanpa tanaman, tanpa tumbuhan
hanya kegersangan.

memang kadang hidup itu bangsat!
prangg!
darah segar mengalir di sela-sela tanganku
ketika kuhantam kaca itu
kucoba meyakinkan diri
bahwa ini bukan darah
ini hanya air mata.

Monday, January 21, 2008

Berapakah Harga Dirimu?

kau lahir di malam minggu
tepat ketika ibu berteriak akhhh!
memandang darah di sekujur tubuh
diantara sejuta kebingungan
jadi apa kau nanti!

kau besar di tanah tandus
diantara jutaan monster rakus
yang hidup
dari darah dan keringat orang.

kau dewasa digenggaman petaka
hingga akhir kau berusaha
menutup mata dan menutup hati

kau jatuh cinta pada seorang medusa
berambut ular dan berhati batu
hingga akhir kau ragu
apakah cinta itu?

kau sadar pada akhirnya
semua hanyalah masalah harga
harga nyawa, harga perut, harga hati
harga hari.

hingga akhir semua harga telah ditentukan
kau bingung, bertanya pada satu harga
berapa harga dirimu!

pandi merdeka nurdiansyah.
ciputat 21 Januari 2008